Sunday, 21 October 2018

Bude Karwo: Pencanangan KB Kesehatan 2016, Fokus Penurunan AKI di Jatim

post-top-smn
Bude Karwo memukul gong tanda dibukanya Pencanangan Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan di Lantai 8 Setda Prov. Jatim

Bude Karwo memukul gong tanda dibukanya Pencanangan Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan di Lantai 8 Setda Prov. Jatim

Surabaya, SMN – Pemprov. Jatim dalam hal ini Kepala BKKBN Perwakilan Jatim, Kepala Dinas Kesehatan dan Kesatuan Gerak PKK Jatim yang menjadi leding sektor, telah  menyepakati bahwa Pencanangan Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan tahun 2016 ini memfokuskan pada penanganan  penurunan Angka Kematian Ibu ( AKI) melahirkan di Jawa Timur lewat kampong KB.

Pernyataan tersebut disampaikan Bude Karwo panggilan akrap Ketua Tim Penggerak PKK Prov. Jatim Dra. Nina Soekarwo, seusai acara Pengcanangan Kesatuan Gerak PKK  KB Kesehatan Tahun 2016, di Ruang Graha Wicaksana Praja Lt. VIII kantor Gubernur jatim Jl. Pahlawan 110 Surabaya, rabu (9/11).

Bude Karwo mengatakan, mengapa Pencanangan Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan tahun 2016 ini memfokuskan pada masalah penurunan AKI? Alsanannya, karena masalah kematian Ibu melahirkan itu sudah menjadi permasalahan dunia. Jadi tidak hanya menjadi masalah reginal (Jatim) atau masalah nasional saja, melainkan sudah menjadi masalah internasional.

Untuk itu,tambahnya, masalah kematian ibu melahirkan ini harus segera ditangani secara komprehensif,  terprogram dan berkesimbungan melalui/lewat kampung KB. Keberadaan kampong KB telah dicanangkan oleh Bapak Preseiden Joko Widodo di Cirebon Jabar bulan Januari yang lalu.Dan kegiatan  kampong KB ini sampai ke wilayah paling bawah yakni RT,RW dan Desa  serta Kelurahan yang sudah disinergikan dengan kegiatan  Kesehatan. Dengan tujuannya untuk meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. “Sebab, masalah AKI sudah menjadi masalah serius  yang harus ditangani,” tegasnya.

Selanjutnya, Ketua TP PKK Jatim mengatakan, Alhamdulillah Jatim telah melakukan pendampingan pada ibu-ibu melahirkan yang bermasalah/berisiko tinggi sejak tahun 2013 lalu. Dan Jawa Timur  menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang telah melakukan pendampingan bagi ibu-ibu yang bermasalah dalam melahirkan. Pendampingan tersebut dilakukan selama 10 bulan penuh yaitu mulai hamil hingga usai nifas, artinya  pendampingan dilakukan setelah diketahui dari hasil pemeriksaan bahwa ibu hamil tersebut bermasalah dalam hal kesehatannya.” Sebab, dari kematian ibu melahirkan tersebut  rata- rata  dikarenakan  penanganan yang terlambat   dan dikarenan oleh pendaharan  setelah mrlahirkan ataupun sebelum melahirkan. Oleh karena itu, pendampingan AKI dilakukan  mulai dari ibu hamil hingga usai melahirkan/ usai masa nifas oleh para kader PKK  di desa masing-masing,” jelas Bude Karwo.

Jumlah ibu-ibu melahirkan beriko tinggi  di Jatim  setiap tahunnya  sangat bervariasi, pendampingan yang dilakukan mulai tahun 2013 hingga  saat ini  yang berhasil  didampinghi oleh para kader PKK secara sukarela sebanyak 3.750 orang.dan pendampingan seperti ini memang sangat effektif untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan. Sebab, pendampingan dilakukan secara intensif mulai dari ibu- ibu mengandung sampai melahirkan/ masa nifas ini hasilnya dapat dirasakan dan dilihat langsung.

Hasil dari pendampingan secara terus menerus/ intensif bisa dilihat perbandingannya yakni dari 100/100.000 kelahiran hidup saat ini turun sangat signifikan menjadi 85,6/100.000 kelahiran hidup ( Jatim) dan penurunan ini sudah dibawah MDG’s yang 102/100.000 kelahiran hidup. Sementara itu, tingkat nasional dari 225/100 ribu kelahiran hidup naik menjadi 359/100.000 kelahiran hidup. Meski begitu, lanjut Bude Karwo, Jatim tidak mau terus berbangga hati dan   terlena dengan tidak melakukan gerakan atau kegiatan lagi. Tapi malah sebaliknya  yaitu  tiga komponen ( BKKBN,Dinkes dan TP PKK) Jatim akan terus berusaha  lebih giat lagi agar  kedepan  Jatim bisa lebih baik dan bagus serta signifikan lagi penurunan AKInya. “Baimana tidak terus bekerja keras lagi, karena di tahun 2015 lalu , masih ada sebanyak 531 ibu melahirkan yang meninggal dunia akibat terlambatnya penangan dan  akibat pendarahan setelah melahirkan,” tambahnya.

Lebih lanjut Bude Karwo mengatakan, untuk meningkatkan derajad kesehatan dan meningkatkan kualitas SDM mulai dari usia dini Emas) hingga  nenek- nenek, maka ddidirikanlah taman Posyandu. Target awal pendirian Taman Posyandu di Jatim  sebanyak 10.000 posyandu, ternyata target tersebut terlampau dengan berdirinya 1.2.227 posyandu. Dengan Goodwillnya Kab/Kota untuk mendirikan taman Posyandu ini sangat baik untuk jumlahnya yang sudah melebihi target. Namun, dibalik jumlah yang banyak itu masih ada kekurangan yaitu kualitas dari taman Posyandu itu sendiri yang  masih kurang dan butuh serta harus ditingkatkan lagi.

Untuk kedepan. Pemprov. Jatim  tidak ingin menambah jumlah Taman Posyandu dulu tapi yang ingin diperbaiki dan ditingkatkah adalah kualitas para kadernya dulu.Sebab, para kader inilah nanti yang memberikan pencerahan dan mengajar PAUD Holistik yang berada dalam taman Posyandu. Peningkatan para kader tersebut, akan dilakukan oleh tiga komponen yakni dinas pendidik  yang memberikan pelatihan pendidikan, dinas kesehatan untuk pelatihan gizi dan tenaga kesehatan ibu dan lansia, sedangkan BKKBN akan memberikan  pelatihan Bina Keluarga Balita (BKB). Sedang PKKnya yang langsung terjun dan bergerak ke lapangan untuk aktifitasnya.

Satu lagi yang harus diwaspadai oleh semua fihak yaitu masalah kenaikan pasangan usia subur. Mengapa? Ternyata sampai saat ini, masih banyak anak usia muda dibawa umur ( 15 tahun)  sudah dinikahkan oleh orang tuanya. Untuk itu, para orang tua hendaknya mau mengerti kalau nikah di usia dini itu sangat membahayakan baik untuk pasangan muda maupun bayinya. Karena usia yang paling baik dan sudah siap menerima pasangannya itu minimal usia 20 tahun dan yang paling baik lagi di usia 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

Pengcanangan Kesatuan Gerak PKK  KB Kesehatan tahun 2016  ini diikuti 250 orang peserta terdiri dari Ketua Tim Penggerak PKK Kab/Kota, Ketua Pokja IV PKK, Sektretaris Pokja IV PKK, Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Kepala  BKKBN Kab/Kota se Jatim.

Ikut hadir dalam acara tersebut antara lain; Kepala Bappeprov. Jatim, kadis Keseshatan, Ketua Tim Penggerak III Prov. Jatim  dan ketua Pokja IV dan Skretaris Pokja IV TP PKK Prov. Jatim  serta Kepala SKPD Prov. Jatim terkait. (*)

post-top-smn

Baca berita terkait