Sunday, 21 October 2018

BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Jatim 5,7 Persen

post-top-smn
Ilustrasi

Ilustrasi

Surabaya, SMN – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur akan mencapai 5,7 persen di akhir tahun 2016. Hal ini dikarenakan inflasi mampu terjaga dengan baik.

“BI Jatim yang masuk bagian TPID terus berupaya menekan disparitas harga. Termasuk mencegah terkereknya harga komoditi terlalu tinggi yang jelas memicu inflasi. Kami juga berhasil memotong rantai distribusi untuk menekan harga,” kata Kepala Bank Indonesia Jawa Timur Benny Siswanto dalam pertemuan tahunan BI Jatim di Surabaya, Selasa (6/12).

Ia mengatakan, BI Jawa Timur juga berperan secara aktif dalam TPID untuk mengendalikan inflasi dengan berkoordinasi dengan 38 TPID kab/kota dan TPID Provinsi Jatim.

“Inovasi terus dilakukan oleh TPID Jatim, hal ini terbukti dengan dikukuhkannya TPID Jatim sebagai TPID terinovatif dengan program kerja unggulan berupa implementasi kerja sama antardaerah, berbagai kegiatan operasi pasar bahan makanan pokok dan bantuan ongkos angkut. Selain itu, TPID Jatim juga menjadi rujukan sejumlah provinsi lain,” katanya.

Benny Siswanto menambahkan pertumbuhan industri kreatif, usaha mikro, kecil, dan menengah daerah ini mampu mengendalikan inflasi selama 2016 karena hingga triwulan III berada stagnan di level 3%.

“Terkendalinya inflasi disokong dengan pesatnya pengembangan klaster komoditas. Seperti UMKM hingga industri kreatif yang mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jatim ditengah lesunya perekonomian global,” kata Benny dalam pertemuan tahunan BI Jatim di Surabaya, Selasa (6/12/2016).

Sementara itu Badan Pusat Statistik mencatat inflasi terendah berada di Kabupaten Banyuwangi yang mencapai 0,25 persen pada pada November 2016.

inflasi yang terjadi di Banyuwangi lebih rendah dari rata-rata inflasi di Jawa Timur yang mencapai 0,33 persen dan inflasi nasional sebesar 0,47 persen pada bulan yang sama.

Di Jatim, inflasi tertinggi terjadi di Sumenep dan Kediri sebesar 0,53 persen. Disusul kota Madiun 0,51 persen, Probolinggo 0,47 persen, Malang 0,45 persen, Jember 0,31 persen, Surabaya 0,26 persen. Banyuwangi terendah sebesar 0,25 persen.(mad/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait