Monday, 22 October 2018

BI Harapkan Penyaluran Kredit Pertanian Diperbesar

post-top-smn

bi Surabaya, SMN – Bank Indonesia (BI) mendorong perbankan agar memperbesar penyaluran kredit ke sektor pertanian. Pasalnya, sektor pertanian berkontribusi hingga 13% dari total PDRB Jawa Timur yang mencapai Rp 1.382 triliun hingga triwulan III 2016.

Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan BI Perwakilan Jatim, Taufik Saleh mengatakan penyaluran kredit ke sektor pertanian masih sangat rendah. Hingga November 2016, total penyaluran kredit perbankan di Jatim mencapai Rp 383,7 triliun. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian hanya kebagian 2,5 % saja. “Minimnya penyaluran kredit ke sektor pertanian tak lepas dari resiko kredit macet yang tinggi. Sebab, petani hanya mengandalkan panen musiman. Jika panen gagal, maka kredit jelas akan tersendat,” kata Taufik Saleh, Selasa (3/1).

Sementara Kepala STIE PERBANAS Surabaya, Lutfi menambahkan, NPL di sektor pertanian memang pernah melambung hingga 8% tahun 2014 silam. Hal itu pula yang membuat perbankan seolah trauma untuk menyalurkan kredit ke sektor itu.

Meski begitu, ia menilai penyaluran kredit ke sektor pertanian perlu digenjot. Dengan begitu, pendapatan dari sektor pertanian bisa terus terkerek. Sehingga kontribusi terhadap PDRB juga ikut naik. Sebab, potensi pertanian Jatim sangat besar.

“Karena itu, ini saatnya perbankan mengalihkan kreditnya untuk usaha produk olahan hasil pertanian. Jangan hanya fokus ke pertaniannya saja. Dengan bagusnya industri olahan, maka kinerja pertanian otomatis ikut terkerek,” sambung Lutfi.

Direktur  Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim), Rudie Hadiono mendukung sektor pertanian agar membenahi sistem olahannya. Sebab, olahan hasil tani lebih menjanjikan ketimbang sektor pertanian itu sendiri. “Dengan sistem olahan yang baik, perbankan tak akan ragu untuk memberikan pinjaman. Karena itu, kami akan tunggu sekltor pertanian Jatim agar terus berbenah,” jelasnya.

Dengan menggenjot kredit ke pertanian, Taufik memprediksi sektor tersebut mampu berkontribusi lebih terhadap PDRB Jatim. “Tahun ini saja 13 persen. Jika permodalan memadai, bisa saja kontribusinya terhadap PDRB melonjak hingga 20 persen tahun depan,” tutupnya. (mad/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait