Wednesday, 17 October 2018

Atasi Kebocoran Pipa PDAM, Pemerintah Kembangkan Teknologi Distrik Meter Area

post-top-smn

dma Surabaya, SMN – Pemerintah terus berupayamengurangi resiko kebocoran air pada pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya yakni dengan memfasilitasi teknologi Distrik Meter Area (DMA).

“Teknologi ini berfungsi untuk pembagian zona distribusi air minum. Dengan pembagian zona tersebut diharapkan akan memudahkan dalam memantau indikasi kebocoran pada pipa,” kata Mochammad Natsir, Direktur Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Rabu (19/10).

Dikatakannya, pihaknya telah meminta kepada PDAM untuk menyediakan jaringan distribusi yang terbagi zonasinya. Untuk itu Kementerian PUPR memfasilitasi beberapa DMA di beberapa PDAM, sehingga nanti jelas zona mana yang paling besar kehilangan airnya untuk menjadi prioritas untuk penanganannya.

Secara teknis juga perlu dilakukan manajemen tekanan air pada saat menyalurkan air melalui pipa, sehingga ketika ada deteksi kebocoran maka diperlukan pengurangan tekanan air.

Dijelaskannya, kebocoran air biasanya disebabkan oleh dua hal, yakni kebocoran secara teknis dan kebocoran secara non teknis atau komersial. Kebocoran teknis disebabkan oleh bocor pada pipa transmisi/distribusi atau air tersebut digunakan sebagai bagian dari proses pengolahan air atau pelayanan kepada pelanggan, seperti pembersihan pipa.

Sementara kebocoran komersial menurut Natsir disebabkan oleh pencurian air  yang biasanya dilakukan warga dengan menyambung langsung pipa jaringan rumah/kantor/instansi/hotel ke pipa transmisi/distribusi tanpa melewati meter air yang digunakan sebagai alat ukur pemakaian air oleh PAM/PDAM.

Selain itu, kebocoran komersial juga dapat terjadi akibat dari kesalahan pencatatan. Ia menyatakan pencatatan secara online bisa menjadi solusi. “Kita ingin mengurangi kesalahan pencatatan itu dengan menggunakan pencatatan online, sehingga perbedaan pencatatan antara meter induk dengan meter pelanggan bisa kita kurangi, contohnya yang sudah ada paling maju ada di Malang,” ujarnya. (jal/kom_jtm)

post-top-smn

Baca berita terkait