Tuesday, 12 December 2017

Arsitek Penanggulangan Bancana Erupsi Gunung Kelud 2014

post-top-smn

Kediri Kelud

Keterangan Foto: Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno meninjau kembali lokasi erupsi gunung Kelud

Kediri, SMNKedahsyatan erupsi Gunung Kelud pada tanggal 13 Pebruari 2014 setahun lalu masih segar diingatan kita semua. Pada saat itu hari Kamis pukul 21.55 Wib. Gunung Kelud meletus dengan suara keras menggelegar dan memuntahkan material yang membumbung tinggi ke angkasa sampai 17 Km. Berbagai ukuran batu, kerikil, debu panas bertaburan ke seluruh wilayah sekitar Gunung Kelud, sedang debu merata ke seluruh pelosok Kabupaten Kediri, dengan ketebalan pasir dan debu sekitar 10 s/d 30 cm.

Esok harinya debu masih mengguyur sampai wilayah Kabupaten Nganjuk, Jombang, Malang, Madiun dan daerah Jatim lainnya. Bahkan sampai sore hari Jum’at 13 Pebruari 2014 debu sudah sampai ke wilayah Jawa Barat dan Mataram. Selain itu Bandara se Jawa Bali ditutup sementara sampai waktu pembersihan debu selesai sesuai keparahan dampak debu Gunung Kelud di bandara tersebut.

Kerusakan paling parah akibat erupsi Gunung Kelud adalah desa-desa terdekat dari radius Gunung Kelud yaitu di wilayah Kecamatan Puncu, Kepung, dan Ngancar. Desa yang mengalami rusak terparah Desa Laharpang, Besowo dan Kebonrejo. Disini banyak rumah dan bangunan lainnya hancur atapnya, pertanian dan perkebunan rusak dan hangus. Kerusakan paling luas adalah sektor pertanian akibat pasir dan debu panas meliputi 6 Kecamatan yaitu Ngancar, Kepung, Puncu, Plosoklaten, Wates dan Kandangan.

Kediri Kelud1

Kondisi Gunung Kelud setelah satu tahun pasca erupsi

Namun demikian masyarakat Kabupaten Kediri masih tetap bersyukur karena erupsi Gunung Kelud sedahsyat itu tidak satupun korban manusia meninggal. Selain itu penanganan terhadap para pengungsi dan pengamanan harta benda berharga milik pengungsi dapat diamankan. Harta benda bergerak khususnya ternak yang banyak dimiliki warga di lereng Gunung Kelud juga dapat terselamatkan dan tidak ada yang mati serta tidak ada penjualan ternak bear-besaran secara murah meskipun ternak tidak jadi diungsikan.

Dalam 1 tahun pasca erupsi Gunung Kelud pada hari ini, semua sudah kembali normal mulai dari pembenahan kondisi rumah yang rusak, bangunan sekolah, saluran air, pertanian, peternakan, dan pariwisata. Roda kehidupan masyarakat sudah berjalan lancar seperti sebelum erupsi Gunung Kelud, para petani dan peternak maupun pengusaha kecil sudah melaksanakan aktifitasnya seperti sediakala. Bahkan pasca erupsi Gunung Kelud saat ini sudah banyak menampakkan manfaat dan keuntungan bagi warga sekitar seperti lahan pertanian lebih subur dan pengunjung ke wilayah Gunung Kelud sudah mulai banyak serta jutaaan material pasir dan kerikil sudah banyak yang memanfaatkan.

Semua tersebut tidak lepas dari peran Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno yang berperan sebagai arsitek penanggulangan bencana Gunung Kelud pada Tahun 2014. Setelah status Waspada Gunung Kelud pada tanggal 2 Pebruari 2014 ditetapkan oleh PVMB (Pusat Vulkanonologi dan Mitigasi Bencana) Bandung. Sesaat setelah penetapan tersebut dr.H.Haryanti Sutrisno langsung melakukan rapat koordinasi dengan seluruh anggota Satlak Penanggulangan Bencana Kelud Kabupaten Kediri untuk melaksanakan tugas secara aktif mulai saat itu sesuai dengan tugas bidang masing masing.

Dalam rapat koordinasi dr. Hj. Haryanti Sutrisno memerintahkan dan menekankan kepada seluruh anggota Satlak Penanggulangan Gunung Kelud untuk mengutamakan pada penyelamatan nyawa manusia. Beliau mengatakan bahwa kesuksesan Satlak dalam penanggulangan Gunung Kelud adalah Zero korban. Untuk itu setiap bidang Satlak harus bekerja secara sungguh-sungguh untuk memprioritaskan nyawa manusia.

Mulai saat itu sesuai perintah dr.Hj. Haryanti Sutrisno, Dinas Kominfo yang berperan sebagai Kepala Penerangan Satlak selalu melakukan koordinasi dan memantau kondisi Gunung Kelud dengan Bagian Vulkanologi Gunung Kelud di Ngancar. Selanjutnya secara rutin menginformasikan ke masyarakat melalui broadcast handphone, HT (Handy Talky), radio komunitas, radio swasta dan lembaga penyiaran lainnya seperti ORARI, RAPI sebanyak 2 kali sehari, yaitu pada pukul 6 pagi dan 6 sore.

Informasi tersebut meliputi suhu udara, suhu kawah, kelembaban, getaran tektonik dalam, tektonik jauh dan tektonik luar serta status Gunung Kelud. Selain itu informasi penting lainnya seperti titik kumpul evakuasi, tempat pengungsian, jumlah pengungsi di masing-masing pengungsian, kondisi pengungsi, sarana dan prasarana di tempat pengungsian dan informasi penting lainnya sampai penanganan pasca erupsi Gunung Kelud selalu diinformasikan kepada masyarakat dan para pencari berita.

Sesaat setelah Erupsi Gunung Kelud, Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno memerintahkan Satlak untuk memprioritas penanganan pengungsi, tempat pengungsian, makanan dan minuman, pakaian dan kesehatan pengungsi. Mulai saat itu dr. Hj. Haryanti Sutrisno secara langsung selalu mengecek kondisi seluruh pengungsi dan tempat pengungsian serta kelengkapan sarana dan prasarana yag diperlukan dalam pengungsian.

Pembersihan jalan-jalan yang tertutup pasir dan debu langsung dikerjakan Satlak bersama TNI, Polri dan masyarakat demi kelancaran lalu lintas. Selain itu pembenahan atap-atap rumah, sekolah dan bangunan lainnya segera dilaksanakan. Setelah satu bulan perbaikan dan pembenahan rumah sudah siap layak huni. dr. Hj. Haryanti Sutrisno memimpin seluruh anggota Satlak untuk berkonsentrasi pada pengembalian pengungsi dan memulihkan roda perekonomian pengungsi melalui bantuan dinas terkait disesuaikan mata pencaharian warga.

Pada saat itu dr.Hj.Haryanti Sutrisno menghimbau kepada para donator untuk membantu khususnya sarana dan prasarana pertanian seperti benih jagung, sayur mayur, pupuk organik, dan pakan ternak. Hal ini dikarenakan mayoritas warga yang terdampak erupsi Gunung Kelud adalah petani dan peternak. Selanjutnya perbaikan sarana dan prasarana sumber air lama yang rusak maupun pencarian sumber air baru, bak penampungan air dan saluran air bersih ke warga selalu digalakkan. Selain itu untuk mengembalikan habitat lingkungan Gunung Kelud yang rusak, dalam satu tahun ini penghijauan di lereng Gunung Kelud terus selalu digalakkan oleh dr. Hj. Haryanti Sutrisno. (kan)

post-top-smn

Baca berita terkait