Monday, 15 October 2018

Anak Korban Tsunami Palu Sudah Bisa Sekolah di Kota Probolinggo

post-top-smn

Anak Korban Tsunami Palu didampingi Wali Murid saat diterima disekolah

Probolinggo, Suaramedianasional.co.id – Generasi anak korban tsunami Palu yang mengungsi di Kota Probolinggo akhirnya bisa bersekolah mulai hari ini (10/10) di Kota Probolinggo. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) setempat bergerak cepat dengan mengantar mata anak-anak ke SD Sukabumi 4 di Jalan Soekarno Hatta.

Moch Viekha Rahardika (33), dan opera, Shinta Permatasari (34) bersama tiga gelar Roro Kesya (12) yang duduk di kelas 6; Muhammad Naufal Kadafi (9) kelas 3 dan Roro Sabilillah (5) masih TK datang ke kantor Disdikpora. Ia ditemui Sekretaris Disdikpora Kukuh Suryadi dan Kabid Pendidikan Dasar Budi Wahyu Rianto di Ruang Bidang Pendas.

“Ini adalah tamu istimewa kami,” sambut Kukuh kepada Moch Viekha Rahardika dan keluarga. Shinta, istri Viekha, beberapa kali mengucapkan maaf dan rasa terima kasih karena sudah merepotkan dinas.

Viekha dan Shinta adalah warga asli Kota Probolinggo. Viekha asal Jalan Wachid Hasyim, Shinta di Perum Kopian Indah. 2009, setelah fikih, Viekha diterima sebagai PNS di Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan ditempatkan disana. Kala itu mereka baru punya satu anak, dua anak lainnya lahir di Palu, Sulawesi Tengah.

Saat gempa berkekuatan 7,4 SR (skala richter) disusul tsunami melanda Palu pada minggu lalu, ternyata keluarga ini sedang bersama di dalam rumah. Kendati jarak rumah mereka sekitar 5 km di perbukitan, kondisi Langsung pun mengalami kerusakan. Dinding rumah retak, kaca-kaca pecah. Viekha dan istri pun kembali ke Probolinggo dengan uang dan hanya menggunakan baju yang melekat di badannya.

Sesampainya di Probolinggo, mereka tinggal di rumah orangtua di Perum Kopian Indah. Shinta pun transparan dengan pendidikan anaknya. Bagaimana pun anak-anak masih harus melanjutkan sekolah. Karena saat ini kondisi di Palu masih dalam masa pemulihan. Untuk itu, Shinta ingin agar dapat bersekolah sementara hanya sementara di Kota Probolinggo.

Bak gayung bersambut. Disdikpora pun bergerak cepat. Karena korban bencana, maka Roro Kesya dan adik-adiknya tidak perlu mengikuti sistem zonasi yang telah diterapkan di Kota Probolinggo. “Kami memasukkan tiket khusus. Kami disini sudah zonasi jadi siswa bisa bersekolah yang dekat dengan rumah. Tapi, seperti ini korban bahaya maka perlu diluar zona. Siapa mau dikehendaki sekolah mana ?, ”tanya Budi kepada Fika dan opera.

Awalnya mereka merencanakan ke SD Sukabumi 2, namun diurungkan oleh mereka sendiri. Di SD Negeri 3 Palu, Roro Kesya dan Naufal sudahulang 13 (K13). Budi pun menjelaskan beberapa sekolah di Kota Probolinggo sudah menerapkan K13 selain SD Sukabumi 2. Shinta pun menjatuhkan pilihan ke SD Sukabumi 4 yang menghibur lebih murah dan sudah K13.

“Sekolahnya nanti akan jadi Pak, kira-kira satu sampai dua bulan sudah tenang dan kondisi di Palu sudah membaik, anak-anak sudah tidak trauma kami bisa kembali ke Palu,” ujar Shinta.

“Yang penting sudah masuk sekolah dulu, walau pun sifatnya sementara, monggo kami bantu. Kami antar langsung ke sekolahnya biar tidak ragu-ragu. Kurikulum sekolahnya disesuaikan dengan sekolah yang di Palu, ”kata Kabid Budi, sambil melihat berkas yang dibawa oleh Viekha. Ya, pagi itu Viekha membawa salinan Kartu Keluarga (KK) dan KTP mereka yang berhasil dalam kondisi panik.

Saat itu juga, Sekretaris Kukuh dan Kabid Budi Wahyu mendampingi Viekha dan juga ke SD Sukabumi 4 bertemu dengan Riana, pihak kepala sekolah. Budi berpesan kepada Fika untuk melaporkan ke SD di Palu bahwa anak-anak sementara bersekolah di Kota Probolinggo untuk mengeluarkan surat keterangan dari Disdikpora.

“Koordinasi dengan sekolah di Palu, Anda melakukan pendaftaran ujiannya di sana. Karena itu sudah kelas 6 SD,, kalau tidak, tidak bisa lagi ikut ujian, ”imbuh Budi. Kepada Riana, Budi Gelar agar pihak sekolah membawa anak-anak korban gempa ini sama seperti siswa lainnya. Dicatat saja absensi dan kegiatan belajar mengajarnya.

Shinta juga Habis seragam sekolah anak-merah, merah putih dan pramuka. Berhubung sekolah bisa sekolah, jika tidak bisa memfotokopinya. Sedangkan anak paling bungsu, akan bersekolah di TK Tunas Bangsa Perum Kopian.

“Alhamdulillah, Sabtu buntu (mencari sekolah anak) karena tidak tahu jalurnya harus kemana. Insyaallah mudah-bijaksana dilitkan keemasan, karena saya disini 1-2 bulan sambil menunggu perkembangan di Palu, ”tutur Shinta.

Anak-anak Shinta pun saat ditanya enggan kembali ke Palu karena ada trauma kejadian gempa disana. Sedangkan Viekha, akan dikirim sendirian ke Palu besok (10/10) karena diperintah oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk kembali terbukti.

“Nanti kalau sudah akan kembali ke Palu dan bersekolah lagi sana, kita akan berkoordinasi lagi,”.(edy)

post-top-smn

Baca berita terkait