Sunday, 18 November 2018

Akibat Sistem Zonasi, Banyak SMP Kurang Murid

post-top-smn

JEMBER, SMN – Di Kabupaten Jember, masih ada sekitar 53 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri yang kekurangan siswa, akibat dari kebijakan baru terkait mekanisme zonasi sekolah.

Dari pantauan media, SMPN 1 Jember dan SMPN 1 Kalisat, ini alami hal tersebut, sehingga sesuai instruksi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, sekolah yang mengalami kekurangan siswa, bahkan melakukan pembukaan pendaftaran gelombang kedua.

Seperti yang disampaikan Plt Kepala SMPN 1 Kalisat Ahmad Ridwan, saat di temui sejumlah media, dirinya mengaku terpaksa harus menerima semua murid tanpa melalui proses seleksi dengan diberlakukannya mekanisme zonasi tersebut.

“Banyak anak dari Sukowono, Ledokombo dan Mayang yang akan sekolah di Kalisat kawatir dengan sistem zona itu, jadinya orang tuanya ngga jadi mendaftarkan diri, takut tidak diterima. Apalagi sekolah lainnya sudah penuh,” katanya kepada media.

Lebih lanjut kata Ridwan, dirinya juga mendapat banyak keluhan dari orang tua calon siswa tentang mekanisme zonasi.

“Apalagi jika calon siswa yang akan mendaftar, memiliki nilai cukup tinggi, mereka takut untuk mendaftarkannya ke sekolah favorit. Karena berada diluar zonasi itu,” ungkapnya.

Padahal, katanya, pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah pendaftar di SMP Negeri 1 Kalisat bisa mencapai lebih dari 300 orang calon peserta didik baru. Namun pada tahun ini, lanjutnya, hanya ada 208 peserta.

“Dimana jumlah itu, tentu saja masih kurang dari pagu yang ditetapkan. Sehingga sesuai kebijakan Dispendik, untuk memenuhi pagu yang tersisa, akan dibuka pendaftaran tahap kedua pada tanggal 10 dan 11 Juli besok,” tandasnya.

Sementara itu, seperti dikutip dari salah satu media online, Kepala Bidang SMP Dispendik Jember, Erwan Salus Prijono membenarkan ada sejumlah sekolah yang terpaksa menerima siswa tanpa proses seleksi.

Erwan menyebutkan, ada 53 SMP Negeri di Kabupaten Jember yang saat ini masih kekurangan siswa dari pagu yang ditetapkan.

“Sistem atau mekanisme zonasi itu, diharapkan untuk pemerataan siswa di seluruh Kabupaten Jember,” katanya.

Namun dengan adanya persoalan yang terjadi pada tahun 2018 ini, lanjut Erwan, pihaknya akan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

“Agar nanti pada tahun-tahun berikutnya, tidak terulang kembali, dan sesuai dengan harapan,” tuturnya. (afu)

post-top-smn

Baca berita terkait